Minggu, 16 Oktober 2011

Artifak Kayu Saqqara: Burung atau Pesawat?


Saqqara, terletak 20 mil di selatan dari kota Kairo, adalah tempat di mana piramida tertua di Mesir berada. Piramida ini diberi nama Piramida Djoser, sebuah bangunan pemakaman yang dibuat penasehat Imhotep, diperuntukkan bagi firaun yang bernama Djoser. Piramida ini diperkirakan berumur sekitar 4000 tahun, dan dibuat sekitar tahun 2667 - 2648 SM. Saqqara juga terkenal sebagai salah satu tanah pemakaman tertua di Mesir, sehingga Saqqara dijuluki "Kota Orang Mati".

Pada tahun 1898, sekelompok arkeolog Perancis menemukan makam kuno yang berisi peninggalan Pa-di-Imen, seorang pejabat dari abad ke-3 SM. Di antara banyaknya barang-barang peninggalan yang ditemukan, ada satu yang menjadi bahan perdebatan, yaitu model burung kecil yang terbuat dari kayu, yang terletak di samping sebuah papyrus yang bertuliskan: "Aku Ingin Terbang". Burung kayu ini kemudian diberi nama Burung Saqqara (Saqqara Bird).

Artefak ini kemudian disimpan di Museum Kairo, bersama dengan figur-figur burung lainnya. Tak ada yang memperhatikan model ini, hingga pada tahun 1969, seorang egyptolog Dr. Kahlil Messiha melihat-lihat koleksi figur-figur burung yang ada di sana, lalu menaruh curiga pada burung Saqqara ini.

Seperti yang diketahui oleh banyak peneliti, bahwa artefak-artefak seperti patung, figur, tulisan, maupun gambar dinding dibuat oleh nenek moyang kita karena mereka mendapat inspirasi dari kejadian yang sebenarnya, atau, mereka menyaksikan sebuah kejadian lalu mengabadikannya lewat benda-benda yang kita sebut sebagai artefak.

Sekilas, burung Saqqara ini memang terlihat seperti patung burung kayu, karena adanya 2 mata di bagian kepala, dan juga sayap. Di sisi lain, sayapnya tidak mirip dengan sayap burung pada umumnya. Sayap burung ini tebal dibagian tengah, dan berangsur-angsur menipis ke ujung. Juga, di kedua ujungnya lebih rendah dibanding pada bagian pangkal. Desain sayap ini sangat mirip dengan desain aerodinamis modern.

Hal lainnya adalah, tak ada burung yang memiliki kemudi di bagian ekornya, karena memang burung tak memerlukan kemudi seperti yang ada pada burung Saqqara ini. Kemudi di ekor ini lebih menggambarkan bagian ekor pada pesawat-pesawat terbang yang ada pada masa kini.

Pada tahun 2006, seorang ahli penerbangan dan aerodinamis, Simon Sanderson merancang ulang model burung Saqqara dengan ukuran lima kali lebih besar, untuk menguji kemampuan terbang dari burung kayu ini. Teknik pengujiannya adalah dengan menguji model ukuran besar ini di terowongan angin, lalu angin disemburkan dari arah depan dengan kecepatan konstan, dengan sudut semburan yang perlahan-lahan ditingkatkan, lalu daya yang dihasilkan pun diukur.

Pada sudut 10 derajat, daya yang dihasilkan adalah empat kali dari berat model, sehingga Simon menyimpulkan bahwa di medan terbang yang sebenarnya, model tiruan burung Saqqara ini bisa terbang.

Selama pengujian ini berlangsung, ditemukan bahwa satu-satunya hal yang membuat kemampuan terbangnya lemah adalah tidak adanya stabilisator kemudi belakang (rear stabilizing rudder) yang dibutuhkan untuk mempertahankan keseimbangan. Lalu akhirnya dicurigai bahwa burung Saqqara ini pernah memilikinya, ditandai dengan bekas aneh di bagian atas ekor, yang mungkin terlepas karena sesuatu hal.

Stabilisator buatan pun ditambahkan, lagi-lagi untuk menguji kemampuan terbangnya. Dan hasilnya pun memuaskan: model burung ini bisa terbang dengan stabil.

Masalah kembali muncul. Kali ini karena jenis model yang dihasilkan adalah pesawat luncur (glider), yang mana jenis pesawat ini tidak bisa lepas landas dengan sendirinya.

Pada jaman sekarang, cara menerbangkan glider adalah dengan mengkaitkannya dengan tali khusus yang tersambung pada sebuah pesawat derek (tow plane). Pesawat derek ini kemudian menarik glider terbang ke angkasa. Saat mencapai ketinggian yang tepat, pesawat derek ini melepaskan sambungan dari glider sehingga glider pun bisa terbang dengan independen.

Jika memang burung Saqqara ini adalah sebuah glider, bagaimanakah cara para penduduk Mesir kuno bisa menerbangkannya dengan peralatan dan teknologi yang memungkinkan di masa itu?


Ada yang mengajukan ide bahwa kemungkinan burung Saqqara ini lepas landas dengan cara mengaitkannya dengan sebuah ketapel raksasa, sehingga burung ini akan terlontar tinggi. Ide ini banyak diterima karena pelontaran dengan ketapel berat itu cukup masuk akal.

Pertanyaannya kemudian, dari manakah penduduk Mesir kuno yang masih terbilang primitif, mendapatkan teknologi terbang seperti itu? Padahal, seperti yang kita ketahui bersama bahwa pesawat terbang bersayap baru ditemukan pada awal abad ke-19 oleh Wright Bersaudara.

Bagi para penganut teori Alien Kuno, ini adalah pertanyaan yang mudah. Mereka akan menjawab bahwa pada saat itu, alien yang datang ke bumi lah yang mengajarkan para penduduk Mesir kuno cara membuat pesawat tersebut.

Bagaimana dengan Anda?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar